Cerita ini baru saja terjadi beberapa menit lalu. Saat aku selesai membantu pekerjaan ibu.
Ayah. selalu mengajarkan sesuatu yang tidak pernah terduga.
Kali ini kupikir beliau kurang piknik. Atau memang terlalu.. entahlah.
Disaat orang-orang akan lari ataupun menghindar bila bertemu (maaf) orang gila. Tidak dengan ayahku. Sikap beliau jelas mengejutkan.
Dia mengajak ngobrol orang yang tidak waras. Bahkan penampilan orang gila tersebut sangat kumal, hitam, dekil, kotor dan sangat bau.
Kalian pasti sudah bisa membayangkannya bukan??
Aku saja selalu lari bila ada orang gila macam mereka. Karena takut dan jujur agak sedikit jijik. Tapi kali ini ayah mengajariku sesuatu. Mengubah presepsiku tentang mereka.
Ayah. selalu mengajarkan sesuatu yang tidak pernah terduga.
Kali ini kupikir beliau kurang piknik. Atau memang terlalu.. entahlah.
Disaat orang-orang akan lari ataupun menghindar bila bertemu (maaf) orang gila. Tidak dengan ayahku. Sikap beliau jelas mengejutkan.
Dia mengajak ngobrol orang yang tidak waras. Bahkan penampilan orang gila tersebut sangat kumal, hitam, dekil, kotor dan sangat bau.
Kalian pasti sudah bisa membayangkannya bukan??
Aku saja selalu lari bila ada orang gila macam mereka. Karena takut dan jujur agak sedikit jijik. Tapi kali ini ayah mengajariku sesuatu. Mengubah presepsiku tentang mereka.
Aku : "Bapak kenalan kalih niko (orang gila itu)?".
(Bapak kenalan sama dia?)
Ayah : "enggeh". (iya)
Aku : "bapak ngertos asmane sinten?".
(Bapak tau namanya siapa?).
Ayah : "mboten tangled namine, tapi keton waras. Nyambung dijak ngomong. Malah gelem takon".
(Nggak tanya namanya, tapi dia terlihat waras. Nyambung diajak bicara. Bahkan mau bertanya).
Aku hanya mengangguk kecil.
Kulihat setelah mereka mengakhiri obrolan asyiknya. Saat ayah melangkah pergi. Orang gila itu sempat berkata mungkin meneriakan sesuatu "suwun paak". (Makasih pak). Lalu tertawa.
Entah apa maksudnya.
Tapi dari hal kecil tadi aku mengerti.
Bahwa mereka yang mungkin kita anggap gila sesungguhnya tidak.
Mereka yang kita anggap gila, sebelumnya pasti pernah waras. Bahkan mungkin lebih waras dari kita.
Bahwa mereka yang berpenampilan kotor, kumal dan bau, tidak berhak kita olok2 ataupun kita lempari batu.
Tidak semua mereka yang tak waras akan menyakiti kita, dan menjadi ancaman bagi kita.
Dia sama seperti kita. Sama manusia.
Kita tidak berhak mengucilkan mereka.
Mereka berhak untuk menjadi normal kembali.
Selagi dia tak mengusik kita. Tak perlu kita menyakitinya.
Jika dia menyakiti kita, tak perlu juga kita membalasnya. Bukan kah mereka gila?? Jadi untuk apa kita sama berbuat gila?
Mencintai bukan hanya kepada yang sempurna. Tapi yang tak sempurnapun berhak mendapatkan cinta kita.
Kebaikan tidak perlu memandang dia siapa. Karena kebaikan tidak pernah memilih datang kepada siapa.
Sehatkan jiwa anda. Selamatkan jiwa mereka.
(Bapak kenalan sama dia?)
Ayah : "enggeh". (iya)
Aku : "bapak ngertos asmane sinten?".
(Bapak tau namanya siapa?).
Ayah : "mboten tangled namine, tapi keton waras. Nyambung dijak ngomong. Malah gelem takon".
(Nggak tanya namanya, tapi dia terlihat waras. Nyambung diajak bicara. Bahkan mau bertanya).
Aku hanya mengangguk kecil.
Kulihat setelah mereka mengakhiri obrolan asyiknya. Saat ayah melangkah pergi. Orang gila itu sempat berkata mungkin meneriakan sesuatu "suwun paak". (Makasih pak). Lalu tertawa.
Entah apa maksudnya.
Tapi dari hal kecil tadi aku mengerti.
Bahwa mereka yang mungkin kita anggap gila sesungguhnya tidak.
Mereka yang kita anggap gila, sebelumnya pasti pernah waras. Bahkan mungkin lebih waras dari kita.
Bahwa mereka yang berpenampilan kotor, kumal dan bau, tidak berhak kita olok2 ataupun kita lempari batu.
Tidak semua mereka yang tak waras akan menyakiti kita, dan menjadi ancaman bagi kita.
Dia sama seperti kita. Sama manusia.
Kita tidak berhak mengucilkan mereka.
Mereka berhak untuk menjadi normal kembali.
Selagi dia tak mengusik kita. Tak perlu kita menyakitinya.
Jika dia menyakiti kita, tak perlu juga kita membalasnya. Bukan kah mereka gila?? Jadi untuk apa kita sama berbuat gila?
Mencintai bukan hanya kepada yang sempurna. Tapi yang tak sempurnapun berhak mendapatkan cinta kita.
Kebaikan tidak perlu memandang dia siapa. Karena kebaikan tidak pernah memilih datang kepada siapa.
Sehatkan jiwa anda. Selamatkan jiwa mereka.